Pilih Pintar atau Bejo ?

Mengapa harus menjadi Pintar dan Bejo
Picture by Moli

Nek dungo kui nyuwun dadi wong sing bejo, sebab wong sing bejo kui ngalahke wong pinter

(Kalau berdoa itu mintalah agar menjadi orang yang beruntung, karena orang beruntung itu mengalahkan orang pintar)

Nasihat ini pasti sangat familiar di telinga orang Jawa. Seringkali saya menanggapi dengan jawaban seperti ini

Yo mending dungo dadi wong pinter tur bejo”

(Ya lebih baik doanya menjadi orang pintar sekaligus beruntung).

Kenapa? Karena bejo (keberuntungan) adalah sesuatu yang tidak bisa kita prediksikan berdasarkan akal sehat manusia. Kita percaya bahwa bejo itu ada tapi sulit untuk dihitung. Meskipun bejo tidak bisa dilihat tetapi bisa kita rasakan keberadaannya.

Bejo adalah sesuatu hal yang abstrak. Sedangkan pintar bisa kita dapatkan dengan usaha yang semaksimal mungkin. Indikator keberhasilannya pun mudah diukur, tergantung dimana kita belajar. 

Pintar

Bagi saya pintar itu ada dua kategori, pintar karena bawaan (given) dan pintar karena ketekunan usaha. Orang yang pintar karena bawaan atau jenius biasanya tak perlu mengeluarkan energi ekstra untuk belajar.

Disisi lain ada orang yang tak memiliki aspek kepintaran bawaan, bahkan bisa dibilang kemampuannya rata-rata ataupun dibawahnya. Akan tetapi, kegigihannya bisa membawa seseorang tersebut menjadi pintar. Yah inilah yang membedakannya dengan orang jenius.

Mereka memiliki tekad dan kesungguhan yang luar biasa. Buku seolah-olah menjadi sahabat karibnya tak peduli setebal apapun. Jika dia mentok, dia pun ga segan datang kepada siapapun bahkan kepada si jenius agar paham.

Oh ya jenius itu tak hanya berlaku untuk segi akademik saja loh, bisa dalam hal lain. Karena saya percaya semua orang itu unik, punya kejeniusan masing-masing.

Ada fenomena yang kerap kali terjadi di sekililing kita. Sebut saja anak A dan B. Mereka berteman baik. A adalah orang yang pintar dan tekun. B adalah seorang yang biasa-biasa saja bahkan bukan jenius. A dan B sama-sama ingin memasuki jurusan dan universitas yang sama.

A sibuk belajar tiap hari, ikut bimbel sana-sini supaya berusaha supaya lolos tes SNMPTN. Sedangkan B tak pernah belajar, tidak minat dengan jurusan tersebut, dan kerjaannya main terus. Saat pengumuman tes SNMPTN keluar ternyata B lah yang lolos.

Si A kecewa berat. Dia tahu B orangnya seperti apa, bahkan seperti tak percaya dia bisa lolos. Disini lah faktor bejo (keberuntungan) berperan.

Bejo

Sekali lagi bejo adalah sesuatu yang abstrak tetapi diakui keberadaannya. Jika kalian pernah belajar tentang elektron, bejo itu layaknya sebuah elektron.

Berdasarkan teori mekanika kuantum, “kita tidak bisa menemukan dimana letak kepastian elektron, yang bisa kita ketahui adalah kebolehjadian/kemungkinan (probability) dimana elektron paling banyak ditemukan”. Sama halnya dengan bejo, yang bisa kita ketahui adalah kebolehjadiannya.

Dari kasus diatas kita tidak tahu seberapa besar keboleh jadian A dan B dalam kelulusan tes itu. Bisa saja si B memiliki kebolehjadian bejo yang jauh lebih besar dari si A.  Sedangkan si B ternyata memiliki probability yang maksimal di jurusan, universitas, atau jalur lain.

Apa yang Mempengaruhi Kebolehjadian Bejo?

Tak ada formula yang pasti untuk menjelaskan faktor penyebab bejo. Namun dari kasus-kasus yang sering terjadi, bejo itu biasanya murni dari faktor eksternal berupa campur tangan Sang Maha Kuasa.

Doa tulus orang tua, ridho orang tua, atau amal kebaikan biasanya membuat probability bejo semakin besar. Namun tidak bisa digeneralisasi seperti itu,  karena bejo adalah hak prerogatif-Nya. Sang Maha Kuasa berhak menentukan siapa yang Dia kehendaki untuk mendapatkan bejo.

Saya mendapatkan rumus unik dari kepala sekolah saya sewaktu SMA.

Prestasi = Potensi x Ikhtiar

(Bp. Ma’shum, AK)

Potensi disini menurut Beliau adalah sebagai suatu pemberian oleh Sang Pencipta seperti kecerdasan. Bagi saya juga bisa diartikan sebagai potensi keberuntungan karena tidak bisa kita ubah. Sedangkan ikhtiar adalah usaha (effort).

Untuk kasus diatas tadi, jika prestasi kedua anak tersebut dalam hal lolos SNMPTN diasumsikan memiliki rentang nilai 1-100, maka:

Prestasi anak A = 1 x 50 = 50

Prestasi anak B = 50 x 2 = 100

Wajar donk kalau yang lolos adalah B? Tapi kalau si A menaikkan effortnya lagi menjadi dua kali lipat, maka akan berubah menjadi 1 x 100 = 100. A sama-sama memiliki peluang lolos di jurusan yang diinginkan.

Oleh karena itu, tingkatkan terus usaha kita. Jika sudah maksimal tetapi masih gagal berarti keberuntungan Anda bukan disitu. Cari lagi dimana letak keberuntungan yang memiliki nilai maksimal. Memang mencarinya susah, bahkan kita seringkali gagal berkali-kali untuk menemukan dimana keberuntungan itu sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan nasihat di atas? Nasihat tersebut tidak seratus persen benar dan tidak seratus persen salah. Yang salah adalah ketika kita hanya berdoa saja tanpa berusaha menjadi orang pintar, begitu pula sebaliknya.

Disclaimer: Tulisan ini hanyalah sebuah opini semata yang ditujukan untuk memotivasi . Tidak bermaksud menyudutkan siapapun. Dan juga tidak bisa digeneralisasi atau di judge karena situasi dan kondisi masing-masing berbeda.

Share

Nihayatun Ni'amah

A scientist who has passion in technology, business, and education

You may also like...

Leave a Reply

%d bloggers like this: